KONSERVASI HULU SUNGAI CITARUM

Wilayah Sungai Citarum seluas kurang lebih 12.000 km2 mencakup 13 wilayah administrasi Kabupaten/Kota di lingkungan Provinsi Jawa Barat, yaitu: Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bogor, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, Kabupaten Sumedang, Kota Bandung, Kota Bekasi dan Kota Cimahi.

Sungai Citarum mempunyai beragam potensi yang berperan yang sangat penting bagi kehidupan sosial, budaya dan ekonomi masyarakat. Tidak hanya dimanfaatkan oleh 43 juta penduduk Jawa Barat (Data BPS 2010), air Sungai Citarum juga digunakan sebagai sumber air baku penduduk perkotaan DKI Jakarta, irigasi pertanian, perikanan, sebagai pemasok air untuk kegiatan industri  serta sumber bagi pembangkit tenaga listrik tenaga air untuk pasokan Pulau Jawa dan Bali.

Dalam kurun dua dekade ini, kerusakan Sungai Citarum sudah terjadi dari hulu hingga hilir. Pesatnya perkembangan sektor demografis serta sosial ekonomi yang tidak seimbang dengan upaya pelestarian lingkungan semakin menambah beban persoalan Sungai Citarum.

Penurunan kualitas lingkungan Sungai Citarum telah berpengaruh pada kondisi masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai, baik di kawasan pedesaan maupun perkotaan. Hampir setiap musim hujan, bencana banjir mengancam berbagai kawasan di Jawa Barat. Pencemaran air sungai akibat aktivitas industri dan pertanian telah mencapai tingkat yang membahayakan dan dapat mengancam kesehatan serta sumber penghidupan masyarakat.

Hulu Citarum berawal di Situ (Danau) Cisanti, Kertasari, Kabupaten Bandung. Situ di kaki Gunung Wayang, bersumber dari tujuh mata air. Sepanjang keberadaannya, pernah terancam hancur karena hutan di sekitar Cisanti dirambah warga dengan skala besar pada periode 1999-2003.

Pada laporan “Dokumen Aliran Citarum 10K” yang dikeluarkan ICWRMIP (Integrated Citarum Communication Team’s Water Resources Management and Investment Program),  kompleksitas problem sungai Citarum di mulai dari hulu.

PERMASALAHAN

Menelisik permasalahan dari Hulu Sungai Citarum.

Bukan hanya menyelamatkan 25 juta jiwa masyarakat yang menggantungkan kehidupnya pada Citarum, namun penyelamatan kawasan hulu juga harus tetap mempertimbangkan keterpaduan ekonomi dan lingkungan untuk pengelolaan kawasan hulu Citarum. Peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi mutlak, jika mata pencahariannya sehat maka lingkunganpun akan selamat.

source : citarum.org

MUTLAK DILAKUKAN

PERBAIKAN HULU CITARUM

Pengelolaan kawasan hulu sungai harus dilakukan untuk melindungi potensi-potensi sumber daya air dan menjaga fungsi hidrologis Sungai Citarum. Lingkup lokasi 10km pertama Sungai Citarum menjadi  fokus utama pembahasan sebagai bagian dari upaya percepatan implementasi dari rencana strategis perbaikan Sungai Citarum.

Pernahkah terfikirkan jika hutannya hilang, pegunungan kapurnya hilang, banjir bah yang maha dasyat bisa menenggelamkan kawasan hilir Sungai Citarum?

Pernahkan terfikirkan jika hutannya hilang, mata air hilang, bencana kekeringan, konflik perebutan air, kelaparan akan melanda masyarakat di sepanjang aliran Sungai Citarum?

Apabila kerusakan lingkungan di Sungai Citarum tidak segera dibenahi, maka kita harus siap menghadapi semua konsekuensi dan ancaman bencana yang bisa kapan saja terjadi. Memperbaiki lingkungan penting dilakukan bagi yang tau dan peduli untuk mengembalikan kelestarian Sungai Citarum.

Komitmen bersama untuk menjaga sungai harus tetap dijaga dengan baik, karena tidak ada solusi tunggal untuk mengembalikan kelestarian Sungai Citarum. Budaya Gotong Royong antara Masyarakat, Akademisi, Komunitas dan Pemerintah adalah nilai-nilai terbaik yang diwariskan oleh para pendiri Negeri ini.

Tentu urusan ini perlu melibatkan kontribusi masyarakat, jika tidak perencanaannya hanya indah di atas kertas

Informasi Terkait

Situ Cisanti