Cisanti.com, Bandung – Awal 2017, Astacala memutuskan untuk membentuk sebuah Yayasan yang pada akhirnya diberi nama Yayasan Astacala1. Dengan harapan utama ruang gerak Astacala sebagai Mapala di bawah sebuah kampus menjadi lebih luas. Beberapa program yang diutamakan saat itu ingin fokus dilaksanakan di satu daerah, Cisanti. Itu menjadi babak awal saya semakin mencari tahu tentang Cisanti.

Gambar: Situ Cisanti2

Awal interaksi saya dengan Cisanti terjadi pada 2009, saya yang saat itu tergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa pernah bersentuhan langsung dengan masyarakat Kecamatan Kertasari (Kecamatan dimana Cisanti bernaung) saat terjadi gempa disana3. Kami (BEM 2009) bekerja sama dengan Mahasiswa STIKES untuk melakukan pengobatan gratis keliling area Kecamatan Kertasari. Dan bagi Astacala, ini juga bukan pertama kali, karena pada 2014 Astacala pernah mengadakan kegiatan Astacala Lintas Alam (ALA X) di Cisanti, sebuah kegiatan jelajah alam di area Situ Cisanti4.

Beberapa kali berdiskusi dengan beberapa rekan Astacala, juga beberapa kali kunjungan kesana. Saya bertemu dengan banyak orang dari berbagai lokasi dan profesi. Kang Uus misalnya, ia salah satu pendiri Institut Gunung Wayang (IGW), sebuah organisasi lingkungan di Kecamatan Kertasari. Beberapa tahun silam, melihat bahwa salah satu masalah di Kertasari adalah adanya perkampungan sekitar bantaran Sungai Citarum yang ketika hujan lebat turun bisa saja terjadi banjir, ya di hulu Sungai Citarum bisa juga terjadi banjir. Beliau, bersama rekannya dan dibantu Mahasiswa Planologi ITB pernah membuat rancangan tata ruang Tanah Bongkor PTPN seluas 25 Ha untuk relokasi 300 rumah dan lahan pembibitan. Dan ternyata pada akhir 2017 rancangan itu dipresentasikan oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan saat beliau mempresentasikan program Citarum Harum. Membuat bangga karena karya warga lokal diterima dan dijadikan presentasi hingga level provinsi.

Gambar: Rancangan Relokasi dari IGW5

Selain itu, saya bertemu dengan Pak Agus, beliau adalah ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) keterwakilan masyarakat yang berinteraksi dekat dengan Dinas Lingkungan Hidup terkait pengelolaan hutan. Saya mendengar kesulitan dan dilema atas luas lahan, jumlah warga, dan sumber penghasilan warga. Karena lahan 16.000 Ha di Desa sekitar Cisanti yang dimiliki legal oleh warga hanya 3% saja dan tentu saja dengan  semakin banyaknya warga lahan sudah tidak cukup lagi. Kalau warga tidak bertani, masyarakat harus memenuhi kebutuhan dasarnya dari mana? Tetapi jika terus dibiarkan tentu saja dapat semakin mengurasi luas hutan di area Hulu Sungai Citarum.

Saya juga sempat bertemu Kang Khadafi, ketua pertama dari organisasi lingkungan tertua di Kertasari, Wahana Pecinta Alam Semesta (Wanapasa). Saya mendengarkan kisah petualangan Wanapasa di awal berdiri. Wanapasa adalah organisasi pertama yang melakukan kegiatan camping di Situ Cisanti, masuk merambah hutan dan camping di beberapa gunung sekitar Cisanti. Wanapasa juga salah satu organisasi yang aktif melakukan kegiatan penanaman dan advokasi di bidang lingkungan. Saat ini Wanapasa sedang mengembangkan bisnis Kopi Arabica yang ditanam di Kertasari yang diberi merk Kopi Rasamala.

Gambar: Kopi Rasamala6

Dan masih banyak lagi bertemu dengan orang yang telah mengusahakan sesuatu untuk Kertasari, untuk Cisanti yang lebih baik. Baik dari sisi ekonomi, lingkungan, pendidikan, hingga pertanian.

Pertemuan dengan masyarakat di Cisanti, memberikan refleksi tersendiri bagi saya. Mungkin maksud Tuhan mempertemukan saya dengan masyarakat sekitar Cisanti adalah untuk mendengarkan. Mendengarkan kisah perjuangan mereka, mendengarkan dilema yang dialami, serta mendengarkan mimpi-mimpinya. Barangkali hal itu memang menjadi hal penting sebelum melakukan ‘intervensi’ masyarakat, perbanyak mendengarkan dan kemudian menentukan program yang tepat untuk mereka.

Selain mendengarkan, mungkin maksud lain dari Tuhan mempertemukan saya dengan masyarakat sekitar Cisanti adalah untuk mengapresiasi setiap perjuangan yang pernah atau sedang mereka lakukan. Karena perjuangan mereka jauh lebih dahulu, jauh lebih banyak, dan jauh lebih lama. Sungai Citarum ini telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, kita mungkin salah satunya. Tanpa kita tahu, ada banyak tangan yang terlibat dalam menjaga sungai ini. Kalau semakin banyak tangan yang menjaga, saya yakin proses perbaikan Sungai Citarum dapat semakin cepat. Karena pada dasarnya sungai ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tapi menjadi tanggung jawab moril kita semua, terlebih lagi orang yang merasakan manfaatnya secara langsung.

“Jika ingin pergi cepat, pergilah sendiri. Namun jika ingin pergi jauh, pergilah bersama-sama.” Barangkalai pepatah Afrika ini sangat tepat untuk kondisi disana. Maka, bersiapkah kita untuk menuju tempat-tempat baru, berupa mimpi bersama? Mari Berkolaborasi, Mari Beraksi!

Opini oleh: Muhammad Catur Saifudin (A-109-LH)

Refrensi;

  1. Astacala Foundation
  2. Dokumentasi Astacala
  3. Detik News
  4. Cisanti
  5. Instagram
  6. Facebook